Comal 2005. Siang turun seperti kepak sayap peri dari atas dahan pohon Ketapang samping rumah : lembut dan hangat. Setyo membuka jendela rumahnya lebar-lebar. Membiarkan angin mengisis masuk ke setiap ruangan. Ruangan dengan dinding-dinding yang sebagian temboknya telah mengelupas. Hingga kelihatan susunan batu bata warna terakota yang pucat. Rumah yang sederhana, di pinggir jalan raya arteri pantura di pinggiran kota apem Comal. Matahari bersinar hangat, tak terlalu terik, seolah memberi isyarat bahwa kota kecil itu sedang menikmati hari yang tenang.
Dari beranda rumah, Setyo mengamati lalu lalang bus antar kota. Dibelakangnya, truk gandeng yang tampak kelebihan muatan, jalannya pelan dan merayap. Beberapa dokar yang ditarik kuda, angkutan desa warna kuning, dan satu dua becak dikayuh ke arah timur, meninggalkan pasar.
Di ruang tengah, Lik Warso sedang berbaring di amben kayu, yang dilapisi kasur tipis yang terisi kapuk randu. Hari ini dia tidak ngetem di atas becaknya. Menunggu penumpang dekat gerbang pasar. Saat hendak sholat Subuh tadi, tubuhnya mendadak greges dan pusing. Setelah sarapan sebungkus Nasi Megono, Lik Warso menyuruh Setyo membeli obat Puyer Bintang 7 di warung Mbak Rosida. Kandungan analgesik pereda nyeri dan antipiretik penurun panas, biasanya akan meringankan rasa sakit pada tubuh tuanya.
Sepasang mata Lik Warso kethap kethip memandangi langit-langit yang dipenuhi sawang, tembok yang pada nyoplok. Adonan semen dan pasirnya yang kering dan tak rekat lagi ke dinding, kepyur berserakan dilantai ubin. Ubin yang didominasi warna hitam berseling kuning dan putih.
Angin siang mengayunkan daun mangga dan Nangka di halaman. Menjelmakan bayang-bayang yang menari samar di tanah berdebu. Di kejauhan terdengar suara Mak Ipah menjajakan gethuk singkong di tampah bulat berdiameter 80 senti.
Tampah itu disunggi diatas kepala.
Suara Mak Ipah kian dekat. Setyo memanggilnya. Mak Ipah, wanita sepuh berusia enam puluhan.
"Mak Ipaah!" panggilnya.
Mak Ipah menghentikan langkah. "Nggih, Mas Setyo?"
"Mampir dulu, Mak. Tumbas gethuknyaa"
Mak Ipah tersenyum, membelokkan langkah, membuka pintu pagar bambu setinggi pinggang. Memasuki pekarangan rumah Lik Warso. Berjalan ke arah Setyo yang menyambut bangkit dari kursi beranyaman rotan yang diplistur warna coklat muda. "Tumben Mas Setyo, yang manggil aku. Biasanya Lik Warso yang
mbengak-mbengok. Seolah aku ini budeg...haha" tawa Mak Ipah renyah. "Haha...ya begitulah Bapak, Mak. Mungkin karena terbiasa mbecak di pinggir jalan. Jadi suaranya keras, biasa bersaing melawan suara bising kendaraan."
"Tumben di rumah mas. Ndak kerja?" "Ndak Mak, izin satu hari"
Setyo memandang gethuk-gethuk yang telah dipotong-potong kecil dalam takir-takir daun pisang. Tersusun rapi di sehampar tampah. Dengan cara itu, Mak Ipah tidak akan kewalahan saat sedang ramai pembeli. Tinggal menaburkan parutan kelapa dan menyiramkan cairan gula merah diatasnya.
"Tiba-tiba aku kangen masa kecil." Gumam Setyo. Mak Ipah tersenyum.
"Kangen itu memang sering datang tanpa diundang, ya. Tiba-tiba mampir di halte pikiran"
Setyo mengangguk.
"Dulu waktu saya masih sekolah, selalu dengar suara Mak Ipah setiap lewat depan rumah. Rasanya dunia tidak pernah berubah."
Mak Ipah memandang jalan yang membentang ke kejauhan.
"Dunia berubah, Mas. Hanya kenangan yang membuat kita merasa segalanya tak berubah, seolah tetap sama."
Angin siang tak jeda berembus. Kotek ayam betina dari halaman samping, diikuti keciap anak-anaknya.
"Mak, kenapa masih berjualan? Anak-anak Mak sudah bekerja semua bukan?" Mak Ipah terdiam sesaat.
Tangannya mengusap daun pisang pembungkus gethuk.
"Orang sering menyangka jualan itu hanya soal mencari uang, Mas." "Lalu?"
"Padahal jualan juga cara Mak menjaga diri untuk tetap hidup. Menjaga semangat hidup."
Setyo memandangnya dengan heran. Mak Ipah tersenyum.
"Kalau Mak berhenti jualan, berhenti berjalan, mungkin kedua kaki Mak masih akan terus kuat. Tapi perasaan Mak yang akan mulai rapuh, semangat hidup Mak yang lama-lama akan luruh."
Mereka sama-sama terdiam. 'Seperti ada setan lewat'. Begitu canda orang-orang mengibaratkan saat kita berbincang, tiba-tiba senyap sekejap.
Burung-burung gereja melompat ke halaman, mencari sisa-sisa gabah yang kemarin dijemur Lik Warso. Gabah pemberian Lik Risman. Bukan pemberian sebenarnya. Lik Risman, saudara Lik Warso yang tinggal di desa, memiliki sangkutan hutang. Membayarnya dengan gabah dari sebagian hasil panennya.
Mak Ipah melanjutkan,
"Kau tahu, Mas. Manusia itu seperti air sungai." "Seperti air sungai?"
"Iya. Selama mengalir, airnya akan tetap jernih. Kalau berhenti terlalu lama, ia mulai keruh."
Setyo mengangguk pelan.
Kata-kata sederhana itu terasa dalam.
"Jadi Mak juga pernah ingin menyerah?" Mak Ipah tertawa kecil.
"Sering."
"Lalu?"
Mak berjalan lagi." "Sesederhana itu?"
"Sesederhana matahari yang tetap terbit meski kemarin tertutup awan." Setyo menunduk.
Belakangan ini hidupnya memang terasa berat. Banyak rencana yang tidak berjalan sesuai harapan. Hanya kegagalan demi kegagalan. Seakan memahami isi pikirannya, Mak Ipah berkata,
"Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang hilang sampai lupa menghitung apa yang masih ada. Menghayal yang tak dimiliki, selalu kepikiran apa yang belum dinikmati"
Setyo menatap wajah tua itu. "Maksud Mak?"
"Dulu aku punya suami. Sekarang tidak."
"Dulu aku punya Bapak dan Ibu. Sekarang tidak." "Dulu aku muda. Sekarang peot tua."
Mak Ipah tersenyum.
"Tapi lihat, Allah masih memberiku sesaat waktu di siang ini. Menjajakan gethuk keliling kampung, berjalan kaki silaturahmi dengan para pembeli."
Matanya yang mulai rabun, memandang langit yang berwarna biru berseling warna abu-abu.
"Sering kali manusia menangis karena kehilangan satu bintang dimalam hari, padahal di atasnya masih ada sejuta cahaya."
Setyo terdiam.
Entah mengapa dadanya terasa hangat. "Mungkin saya terlalu sering mengeluh, Mak." "Bukan mengeluh yang salah."
"Lalu?"
"Yang salah kalau kita berhenti bersyukur dan menyerah." Angin kembali berembus.
Daun-daun Mangga berdesir pelan seperti ikut mendengarkan percakapan mereka. Mak Ipah lalu mengambil potongan-potongan gethuk. Menatanya di takiran daun pisang. Menaburkan parutan kelapa, menyiramkan cairan gula merah dan menyerahkannya kepada Setyo.
"Coba rasakan,Mas." Setyo menggigitnya. "Manis. Gurih"
Mak Ipah tersenyum. "Hidup juga begitu."
"Maksudnya?"
"Gethuk ini dibuat dari singkong." "Iya."
"Singkong tumbuh di dalam tanah. Kotor. Tertimbun. Tak terlihat." Setyo Mengangguk.
"Tapi setelah diolah dengan sabar, jadilah makanan yang manis dan gurih." Matanya menerawang jauh.
"Begitu juga manusia. Kadang Allah menanam kita dalam kesulitan yang gelap. Bukan untuk mengubur kita, melainkan untuk mematangkan rasa manis yang belum muncul."
Siang semakin terik.
Di kejauhan terdengar suara anak-anak pulang sekolah. Pukul 11 siang.
Mak Ipah mulai memegang kembali kedua sisi tampahnya. Bersiap menyungginya lagi. Keliling menjajakan dagangannya lagi.
"Saya beli semua gethuk yang tersisa ya, Mak." Mak Ipah menggeleng pelan.
"Jangan."
" Kok jangan...kenapa?"
"Masih banyak orang yang mungkin sedang menunggu suara teriakan Mak. Haha." Mak Ipah terkekeh.
Setyo tersenyum. Benar juga.
Setiap orang memiliki jalan yang harus ditempuhnya sendiri. Kuat, bukan karena belas kasihan.
Mak Ipah mengangkat tampahnya, menyungginya perlahan. Sebelum pergi, ia menoleh.
"Mas Setyo." "Nggih, Mak?"
"Jangan takut kalau hidup terasa lambat." Setyo menunggu kelanjutan kata-katanya.
"Sebab pohon Mangga punya mas Satyo itu, juga tidak pernah iri kepada rumput yang tumbuh lebih cepat. Keduanya sedang menuju takdirnya masing-masing"
Lalu Mak Ipah melanjutkan perjalanan. "Gethuk... gethuk... gethuk manis..."
Suaranya semakin jauh, menyatu dengan cahaya siang yang menghangatkan. Dan Setyo berdiri lama di depan pagar bambu, memegang sepotong gethuk, berjalan ke arah kursi, duduk. Mengunyahnya. Sepotong demi sepotong. Kian memahami bahwa kebijaksanaan tidak hanya datang dari buku-buku tebal dan
ceramah-ceramah ahli agama. Dia bisa datang dari seorang yang telah kenyang mengunyah pahit manis kehidupan, yang berkelindan di sepanjang hayat. Seperti Mak Ipah.
Seekor kucing tidur meringkuk di bawah kursi, pulas menikmati silir sejuk udara di teras. Dihalaman, jemuran pakaian berkelebatan dihela sang bayu. Jemuran yang terbuat dari sepasang bambu berbentuk huruf T. Di sambungkan empat kawat berbahan metal sepanjang 3 meter, sebagai sampiran pakaian.
Langit biru melengkung luas, bersih tanpa gerumbul awan. Burung-burung gereja bertengger di kabel listrik yang melintas di tepi jalan, berkicau ringan seperti percakapan kecil yang ikut mengisi riuh suara kendaraan dari arah jalan besar. Bus Sinar Jaya melaju, menyemprotkan hamburan asap knalpot dan debu-debu.
Rumah sederhana itu pernah menyimpan kehangatan yang sulit dijelaskan. Di sana ada tawa anak-anak yang pernah tumbuh, doa-doa yang dipanjatkan setiap malam, dan harapan-harapan yang tetap hidup meski zaman terus berjalan.
Kehangatan siang di pinggiran kota Comal, seperti pelukan purba yang tak pernah hilang: hangat, tenang, dan penuh kenangan. Setiap hembusan angin membawa cerita. Setiap cahaya matahari yang jatuh di lantai beranda, mengingatkan Setyo pada keluarganya. Masa kecilnya.
Derau angin membawa aroma tanah kering bulan Juni dan daun Nangka yang gugur di halaman. Suara buah Mangga yang jatuh karena terlalu matang di dahan.
Rumah itu sudah kusam. Penghuninya tak pernah mengecat nya lagi. Kursi kayu dengan sandaran dan tempat duduk dari anyaman rotan di teras. Selalu berbunyi setiap kali diduduki. Jam dinding berteknologi mesin quartz dengan merk Seiko berdetak lambat seperti menahan waktu, agar tak terlalu gegas meninggalkan kenangan.
Namun bagi Setyo, rumah itu adalah satu-satunya tempat yang masih menyimpan tiap suara dan tingkah nakal masa kecilnya. Masa kecil bersama adiknya Tuti, Ibu dan Bapaknya. Saat keluarga mereka masih utuh. Saat kebersamaan masih selalu melingkupi hari-hari bahagia keluarganya.
Lima belas tahun, roda waktu telah melaju jauh.
Saat perceraian orang tuanya terjadi, Setyo berusia dua belas tahun. Adiknya baru enam tahun. Usia ketika seorang anak masih percaya bahwa semua orang dewasa akan selalu tinggal bersama selamanya.
Namun malam itu, dunia Setyo serasa pecah.
Ia masih ingat suara koper terseret di lantai rumah. Ibunya menangis. Bapaknya duduk menunduk di ruang tamu, tanpa bicara. Hanya keheningan. Dan Setyo, berdiri di depan pintu kamar mencoba terlihat kuat meski matanya sembab memerah.
“Tuti ikut Ibu ya,” kata Siti, ibunya sambil membelai rambut poni anaknya. “Terus Mas Setyo?”
“Mas Setyo tinggal sama Bapak.” “Kenapa?”
Ibunya tak menjawab.
Kehidupan orang dewasa, kadang terlalu kompleks untuk dimengerti anak kecil. Mereka naik becak ke pool bus di Blandong Comal, menuju Jakarta. Kerumah Lik Maksum, kakak Siti yang bekerja di Toko Karpet. Rencananya, Siti akan juga bekerja di toko itu.
Setahun kemudian, Siti menikah dengan seorang pria Turki bernama Mehmet. Setyo bersama kakek dan pamannya menghadiri pernikahan itu. Pernikahan di rumah Lik Maksum dengan acara akad nikah dan resepsi sederhana. Pria Turki itu tinggi, beralis mata tebal. Berbicara bahasa Indonesia dengan logat asing yang masih kaku. Tapi santun.
Ia bekerja di Istanbul. Diutus perusahaannya untuk menjajaki ekspor karpet dan tekstil di Indonesia. Bertemu dengan Siti pertama kali ketika dia ke Toko Karpet tempat Siti bekerja. Setelah pernikahan itu, Siti dan Tuti dibawa ke Turki. Meninggalkan Indonesia. Meninggalkan Setyo. Meninggalkan suara azan yang merdu di langit Jakarta, hujan tropis dan aroma gorengan di sore hari.
Di bandara Soekarno - Hatta, Tuti kecil menangis memeluk Setyo. Merajuk manja. “Mas Setyo ikut ya…?”
Setyo tersenyum, mengusap buliran bening di pipi dan kedua mata jenaka adiknya. “Mas Setyo jagain Bapak.”
“Tapi,...janji nanti nyusul?” Setyo tercekat.
Namun tetap mengangguk. Ragu. “Iya.”
Itu kebohongan pertama yang ia ucapkan demi menenangkan hati seorang anak kecil. Mana mungkin dia akan menyusul adiknya nanti, di negara yang sangat jauh. Pesawat telah terbang.
Dan sejak hari itu, hidup mereka terbelah diantara dua negera.
Tahun-tahun pertama di Turki, masa yang sulit bagi Tuti. Terlalu banyak yang harus disesuaikan untuk adaptasi, terlalu banyak keadaan yang mesti dipelajari. Istanbul terasa asing.
Musim dingin membuat tangannya membeku. Salju pertama yang turun tak menjadikannya gembira, justru membuatnya menangis karena rindu matahari Indonesia.
Di sekolah, ia tidak mengerti apa pun. Anak-anak berbicara cepat. “Merhaba !”
“Sen nasılsın ?” “Gel buraya !” Tuti hanya diam.
Ia pulang setiap hari dengan mata sembab. Bertanya pada ibunya sambil menangis. “Bu… kapan pulang?”
Siti memeluknya erat.
“Kita tinggal di sini sekarang. Disini rumah kita, Nak.” “Tapi Tuti rindu Indonesia…” Ibunya ikut menangis.
Namun hidup, sekali berubah, sering kali tidak memberi jalan kembali. Mehmet pria yang baik. Ia tidak pernah memaksa Tuti memanggilnya ayah. Ia mengajarinya perlahan bahasa Turki, membelikannya mantel musim dingin, dan menemaninya belajar. “Bak,” katanya sambil menunjuk jendela yang dipenuhi salju. “Kar…”
“Apa?”
“Kar. Artinya salju.”
Tuti kecil mengulang pelan. “Kar…”
Sedikit demi sedikit, bahasa baru mulai tumbuh di lidahnya. Tahun demi tahun berlalu.
Bahasa Indonesianya mulai tercampur.
Ia mulai berkata: “Ben lapar…” atau “Aku mau su içmek…”
Ia bahkan mulai bermimpi dan mengigau dalam bahasa Turki.
Di Comal, Setyo menjalani hidup sederhana bersama bapaknya. Lik Warso berubah menjadi pria pendiam.
Ia bekerja keras, lalu pulang dalam sunyi.
Kadang malam-malam ia membuka album foto lama.
Foto Tuti kecil memakai seragam TK. Setyo memegang piala saat juara sebuah lomba .
Foto mereka berempat makan bakso. Foto keluarga sebelum semuanya retak.
“Bapak kangen Tuti?” tanya Setyo suatu malam sepulang dari mushola. Tiap habis Magrib hingga Isya, Setyo mengajar anak-anak belajar mengaji. Belajar membaca kitab suci.
Lik Warso tersenyum sekilas. “Setiap hari,Tyo”
“Kenapa tidak menyusul, Pak. Menemuinya?”
Lik Warso hanya mendongak. Memandang langit-langit. Menghela nafas dalam-dalam. Diam. Lama.
“Kadang, karena rasa malu lebih berat daripada menahan rindu. Lagian, darimana biaya untuk kesana..."
Setyo mengangguk, memahami.
Waktu bergerak tanpa menunggu siapa pun.
Tuti tumbuh menjadi perempuan dewasa di Istanbul. Gadis itu, kuliah seni rupa di dekat kawasan BeyoÄźlu. Ia menyukai langkah di jalanan berbatu dekat Menara Galata sambil membawa buku sketsa.
Ia menyukai aroma kopi Turki.
Suara keciap sekawanan burung camar di atas Selat Bosphorus. Lampu-lampu indah kota Istanbul saat malam temaram.
Ia juga bekerja paruh waktu di sebuah galeri seni.
Tuti tak pernah lupa bahwa dulu ia tinggal di negeri yang jauh, Indonesia. Ada yang tetap tinggal dalam dirinya.
Ia masih menangis setiap mendengar lagu-lagu berbahasa Indonesia. Masih suka aroma hujan.
Masih suka makan nasi dengan tangan ketika sendirian.
Dan setiap melihat kakak-adik berjalan bersama di Istanbul, dadanya terasa kosong. Karena tersadar: ada seorang kakak yang hilang dari hidupnya.
Suatu malam di musim dingin, Tuti membuka kotak tua di apartemennya.
Di dalamnya ada dua lembar foto kusam. Dirinya di gendong Setyo. Tertawa.
Di belakang mereka ada pohon Mangga dan Nangka. Satunya lagi foto mereka sedang makan bakwan dan tempe goreng di pinggir kolam renang Comal Baru.Tubuh mereka masih basah usai bermain air.
Tuti menatap kedua foto itu. Lama sekali. Lima belas tahun.
Lima belas tahun ternyata tidak cukup untuk menghapus rindu.
Sejak malam itu, ia mencari informasi tentang kakaknya. Dari Lik Maksum, Tuti diberitahu Setyo sekarang bekerja sebagai tenaga kebersihan luar gedung di CV Bintang Kelas Prima. Tuti mencari dan mendapatkan nomor telepon perusahaan itu di internet. Besoknya, saat jam istirahat pukul 12.30 WIB, Tuti menelponnya.
Kebetulan Setyo berada di dekat pesawat telepon, karena para karyawan sedang keluar untuk sholat dan makan.
Tangan Tuti gemetar ketika menekan tombol panggilan internasional. Thuut…
Thuut…
“Assalamu'alaikum. Hallo, ini dengan CV Bintang Kelas Prima. Apakah ada yang bisa kami bantu”
Suara lelaki dewasa terdengar.
“Wa 'alaikumussalam,…Mas. Bisakah bicara dengan Mas Setyo?” Sunyi beberapa detik.
Lalu suara di seberang berubah pelan. "Iya, saya sendiri. Saya Setyo ”
Sebuah suara yang selama ini hanya hidup samar dalam ingatannya. Ia hampir lupa bagaimana rasanya mendengar suara kakaknya sendiri. Suara Tuti terbata. Tangisnya mulai pecah.
“Mas...Mas Setyo…ini adikmuu. Tuti,.. Mass” Setyo memegang telepon erat-erat.
Lima belas tahun lenyap hanya oleh dua kata: “Mas Setyo”
Seminggu kemudian Tuti terbang ke Indonesia.
Selama perjalanan panjang dari Istanbul, ia nyaris tidak tidur.
Ia memandangi awan dari jendela pesawat sambil bertanya dalam hati:
Apakah rumah di selatan jalan besar lintas utara Pulau Jawa itu masih seperti semula? Pohon Nangka dan Mangga yang dulu masih kecil, pasti sekarang sudah banyak berbuah.
Apakah Bapak masih suka kopi pahit? Ah, semoga bapak sehat-sehat semata. Apakah dirinya masih dianggap keluarga?
Saat pesawat mendarat dan pintu kedatangan terbuka, jantungnya berdetak keras.
Tak jauh dari pesawat mendarat, tampak Setyo berdiri di depan pagar pembatas kedatangan. Usianya dua puluh tujuh tahun. Wajahnya lebih matang, kulitnya agak gelap karena sering bekerja di bawah matahari. Di tangannya ada sebuket bunga melati yang dibelinya pagi tadi.
Jantungnya berdegup tidak seperti biasanya.
Ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah adiknya sekarang.
Yang tersisa dalam ingatannya hanyalah seorang anak kecil berkuncir dua yang suka berdendang di beranda, sambil menimang boneka Panda.
Pintu otomatis terbuka.
Penumpang mulai keluar satu demi satu. Setyo memperhatikan setiap wajah.
Lalu tiba-tiba ia melihat seorang gadis muda berhijab krem berjalan perlahan sambil menarik koper.
Wajahnya cantik dan teduh.
Ada sesuatu yang sangat dikenalnya. Cara berjalannya. Setiap orang memiliki bahasa tubuh yang khas saat berjalan. Gerakan kakinya, ayunan tangan nya, lenggok kepalanya.
Gadis itu berhenti.
Matanya menyapu kerumunan. Kemudian bertemu dengan mata Setyo. Jantung serasa tersirap sesaat.
"Tuti...?"
Suara Setyo hampir tak terdengar. Gadis itu mematung.
Bibirnya bergetar.
Air mata langsung memenuhi pelupuk matanya. "Mas Setyo...?"
Lima belas tahun lenyap dalam satu detik.
Tuti menjatuhkan pegangan kopernya dan berlari. "Mas!"
Setyo membuka kedua tangannya. Mereka berpelukan erat.
Sangat erat.
Seakan takut waktu akan memisahkan mereka lagi. Tangis Tuti pecah.
Tangis yang tertahan bertahun-tahun. "Evime Dönüyorum, Mas. Aku pulang..."
Setyo mengusap kepala adiknya.
Air matanya juga membasah di wajahnya. "Tuti sudah besar..."
Tuti tertawa di sela tangisnya. "Tapi tetap adiknya Mas Setyo."
Setyo masih memeluk adik kecilnya. Meski gadis itu sekarang tlah dewasa, ia akan selalu menganggap Tuti adik kecilnya.
Setyo memejamkan mata. Aroma parfum Tuti berbeda. Logat bicaranya berbeda.
Bahasanya berbeda.
Namun pelukan itu masih terasa seperti adik kecilnya dulu.
Dan Setyo mengulas senyum samar :
Jarak bisa mengubah bahasa, mengubah wajah, mengubah kebiasaan, bahkan mengubah negara tempat seseorang berpijak.Tetapi rindu, rindu selalu berbicara dalam bahasa yang sama.Mereka masih berdiri. Masih berpelukan.
Orang-orang di sekitar berlalu lalang. Tetapi bagi mereka dunia sedang diam. Setelah sedikit tenang, mereka duduk di bangku dekat jendela besar bandara.
Di luar, pesawat-pesawat tampak seperti kepak burung raksasa yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Tuti memandangi kakaknya. "Mas berubah."
"Kamu juga." Tuti tersenyum.
"Di Turki aku sering membayangkan wajah Mas. Tapi ternyata berbeda." "Aku juga. Yang aku ingat, kamu masih anak kecil."
Mereka tertawa. Lalu hening sejenak.
Ada banyak tahun yang hilang di antara mereka. Banyak cerita yang belum sempat diungkapkan.
"Mas marah sama Ibu?" tanya Tuti pelan. Setyo memandang landasan pacu di kejauhan. Lama diam.
"Aku...pernah marah. Juga sama Bapak" Tuti menunduk.
"Tapi marah itu bikin lelah." la tersenyum tipis.
"Kalau kita terus menyimpan amarah, yang kita hukum bukan orang lain. Tapi diri sendiri."
Tuti mengangguk perlahan.
Di sudut matanya kembali muncul air mata. "Di Turki, aku sering kangen rumah." "Rumah yang mana?"
Tuti berpikir.
Lalu menjawab lirih.
"Rumah yang ada Mas-nya." Setyo terdiam.
Kalimat itu terasa hangat sekaligus menyakitkan. Karena selama ini ia pun merasakan hal yang sama. Rumah ternyata bukan bangunan.
Bukan alamat.
Rumah adalah orang-orang yang membuat hati merasa pulang. Bukan negara.
"Bapak bagaimana?" tanya Tuti.
"Masih suka bangun sebelum subuh. Masih suka menyapu halaman di sore hari." Jawab Setyo.
Tuti tersenyum sambil menghapus air mata. " Masih keras kepala?"
"Masih."
Kemudian Tuti berkata, Mereka tertawa lagi.
"Mas tahu? Di Istanbul, saat musim dingin turun salju, aku sering berdiri di dekat jendela."
"Untuk apa?
"Aku membayangkan langit yang sama sedang menaungi Indonesia." Setyo memandang adiknya.
"Meski jauh sekali, ternyata kita masih berada di bawah langit yang sama." Tuti mengangguk.
"Dan sekarang aku sadar, jarak paling jauh bukan ribuan kilometer." "Terus apa?"
"Jarak paling jauh adalah ketika orang yang kita sayangi ada di hati, tetapi tidak bisa kita peluk."
Setyo tersenyum haru.
Benar. Lima belas tahun mereka hidup di dua dunia berbeda. Dua bahasa berbeda. Dua musim berbeda.
Namun darah yang mengalir dalam tubuh mereka tetap sama.
Kasih sayang tetap menemukan jalannya. Seperti sungai yang akhirnya bertemu samudera. Suara pengumuman di bandara terus terdengar dari pengeras suara. Orang-orang berdatangan ke bandara. Sebagian lagi gegas pergi.
Setyo berdiri lalu mengambil koper adiknya. "Ayuk kita otewe ke Comal. Pulang." Tuti menatapnya.
Satu kata yang selama bertahun-tahun ia rindukan: 'Pulang'.
la tersenyum sambil menggenggam lengan kakaknya. Dengan nada masih manja. Seperti dulu.
"Yuk, Mas. Kita pulang"
Di bawah langit Jakarta yang memerah jelang senja, dua saudara yang pernah dipisahkan keadaan, akhirnya berjalan seiring lagi. Bergandengan.
Tidak ada lima belas tahun yang bisa dikembalikan. Namun masih ada hari-hari yang bisa mereka kenang bersama. Hidup tidak akan bisa mengembalikan lembaran masa lalu. Namun hidup sering memberi kesempatan untuk menyembuhkan, perihal dahulu yang pernah hilang.
Kotapadi, 2026