Lazuardi lengkung jingga melayah indah dikaki langit sebelah barat. Seindah lukisan senja bergaya realis romantik karya Basuki Abdullah. Desa di timur laut wilayah administratif kecamatan Ulujami Pemalang itu, sebentar lagi temaram oleh lampu pinggir jalan yang mulai dinyalakan. Lampu yang terbuat dari sumbu kompor atau kelinan kain yang dihubungkan dengan botol berisi minyak tanah. Diletakan dalam kotak sebagai pelindung angin dan hujan yang terbuat dari seng dan kaca. Disangga sebuah tiang dari bambu, atau batu bata yang dibangun semacam tugu. Di akhir tahun 1970-an, desa itu belum teraliri listrik negara.
Bunyi derit becak yang dikayuh Lik Sudrun, menolehkan beberapa orang yang bersiap ke langgar untuk menunaikan sholat Maghrib. Seorang penumpang pria berambut putih di sebagian kecil mustaka-nya, duduk dengan tangan berpegangan pada lengkungan besi di sisi kanan. Tangan satunya menahan tas jinjing warna biru muda. Jalanan tanah bergelombang, mengayunkan tubuhnya kedepan dan kebelakang.
"Stop, turun depan nggih, Lik "
Pria yang tangannya belum disaluri keriput di usia 45 itu, menunjuk sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang di cat kapur warna putih, dengan pintu dan jendela warna coklat yang kayunya telah lapuk berlubang dimakan rayap.
Lik Sudrun sigap menarik rem tangan yang berada di bawah sadel becaknya. Sasro, nama penumpang itu, mengulurkan beberapa lembar uang.
" Maturnuwun, Lik. Kapan-kapan kita ngopi di warung Yu Darni " sambut Lik Sudrun
menerima ongkos becak yang telah disepakati bersama, saat Sasro baru turun dari Bus Coyo tadi. Disambung perjalanan dengan menaiki becak untuk sampai rumahnya. Sepanjang jalan mereka berbincang. Saling menyebut nama juga. Rupanya mereka berasal dari desa yang berbeda.
Langkah Sasro ragu. Rumah itu lengang. Ada pendar remang lampu teplok di ruang depan. Wajahnya muram, dipenuhi garis-garis waktu yang panjang dan melelahkan.
" Assalamualaikum,...kulonuwun" " Wa 'alaikumussalam,...Monggo"
"Sasro,...kamu kah. Benar kamu, Sasro? Kamu pulang,..akhirnya. Alhamdulillah..."
Getar suara lirih emak, menyambut Sasro yang berdiri termangu di depan pintu. Sasro meraih tangan keriput Emak, menciuminya. Menarik tubuh tua ringkih itu ke dalam pelukannya.
Saling berpelukan. Erat. Rindu emak dan anak yang hampir berkarat, kini meleleh disepuh derai bening air mata. Rindu dua tubuh yang tlah lama dipisahkan jarak. Rindu dua jiwa yang masih saling mendoakan di sujud-sujud tengah malam. Dalam tengadah tangan-tangan yang tak lelah bermunajat di kamar temaram.
Tak banyak yang berubah dengan desanya. Desa yang telah ia tinggalkan 20 tahun lamanya. Juga aroma tanah usai hujan yang baru saja menyambutnya. Aromanya masih sama. Aroma yang dihasilkan cuaca panas, saat tumbuhan mengeluarkan semacam minyak yang terserap tanah dan bebatuan. Lalu tetes-tetes hujan yang menyiram bumi menciptakan gelembung udara. Membawa partikel aroma harum tanah yang memenuhi alam. Alam desa yang masih terjaga.
Alam desa yang mengingatkan Sasro pada kenangan masa muda. Seorang gadis berkebaya warna bunga Kenanga yang dulu sering menyapanya di bawah pohon Randu dekat sungai, tiap senja sepulang dari sawah. Sementara gadis itu sengaja menghentikan sepedanya. Pulang dari kebun melatinya. Menunggu Sasro lewat. Bersepeda beriringan. Berbincang selintas dengan wajah sama-sama tersipu.
Bermula saat Yanti pulang dari kebun melati di utara desa. Membungkuk, memandangi rantai sepeda. Sepeda yang ia naiki setiap hari untuk memetik kembang Melati, rantainya putus, tak bisa dikayuh lagi.
Sasro muncul dari belakang. Menghentikan sepedanya. Cangkul yang tadi di panggul, diturunkan dari pundaknya.
"Kenapa sepedanya, Yan?"
"Putus rantainya, Kang " ada rasa pasrah dari nada suaranya. Rumahnya masih jauh ditengah desa.
Kebun Melati milik bapaknya terletak di sebelah utara desa, dekat laut. Sebagian penduduk desa berkegiatan di hamparan kebun melati yang tumbuh subur ditanah berpasir. Pagi mereka memetik kembang melati yang masih kuncup. Hasilnya dijual ke juragan pengepul. Siangnya, mereka menyiangi rumput yang tumbuh disekitar pokok-pokok melati. Rumput yang lebat akan mengurangi kesuburan melati. Sebagian lain menyemprotkan obat hama di hamparan daun-daun dan bunganya.
Bunga Melati umumnya dimanfaatkan sebagai campuran aroma teh. Dalam industri, didestilasi menjadi minyak Atsiri sebagai parfum dan pewangi. Di Banyak tempat, bunga Melati digunakan dalam upacara pernikahan, aromaterapi, serta pengobatan herbal tradisional. Lewat keuletan para petani seperti Yanti, bunga Melati mengeluarkan aroma wanginya yang menenangkan. Dapur-dapur mereka juga bisa terus berasap dari hasil memetik melati setiap hari.
Tiap Subuh mruput, mereka berangkat. Ada yang jalan kaki, sebagian lagi naik sepeda. Pulang dan pergi, melewati jalan tanah yang membelah luas persawahan. Salah satunya sawah sepetak milik orang tua Sasro.
Tampak desa mereka masih berjarak 2 kilometeran. Gerumbul pepohonan berselingan menaungi rumah-rumah beratap anyaman daun Rumbia. Hanya satu dua rumah yang beratap genteng milik orang kaya.
Sasro melangkah ke arah Yanti. Usai merebahkan sepedanya ke hamparan rumput Teki di tepi jalan. Standar-nya telah patah karatan, belum di belikannya yang baru lagi.
" Iya pengunci rantainya longgar, Yan" gumam Sasro sambil menelisik rangkaian jalur rantai sepeda Yanti.
" Bisa kah disambung lagi, Kang" "Bisa, Yan. Insya Allah, bisa "
Sasro mengangkat sepeda yanti dengan posisi terbalik. Sadel dan stang kini bertumpu di tanah. Dengan posisi itu, Sasro akan lebih leluasa memasukkan dua sisi kunci rantai dari arah berlawanan. Menggunakan alat Tang yang slalu sedia tergantung di kantung bawah sadel sepedanya. Setelah menyatu, Sasro menarik rantai dengan memutar kuat pedal sepeda, agar dua sisi kunci rantai itu saling mengikat kuat. Berhasil.
" Berhasil ya Kang. Alhamdulilah, bisa" seru Yanti dengan sepasang mata berpendar gembira.
" Iya, Yan... Alhamdulillah" sambut Sasro sambil membalikkan posisi sepeda. Sepeda siap dikayuh kembali ke arah desa. Pulang.
" Suwun, Kang. Suwun "
Sasro tersenyum, mengangguk sekilas.
Mereka beriringan mengayuh sepeda. Dari belakang, tampak punggung mereka tegap, tetapi sesungguhnya jantung sama-sama berdegap. Senja tlah surup kian gelap.
Yanti, nama itu tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Dua puluh tahun lalu, setelah bapaknya meninggal, Sasro pamit pada ibunya untuk merantau meninggalkan desa. Ke kota, tempat menganyam masa depan. Berbekal sedikit keahlian mbengkel sepeda. Pada pemahamannya, dikota pasti banyak bengkel sepeda membutuhkan jasanya. Atau kerja apa saja. Karena di desa yang sunyi, tak ada yang bisa diharapkan untuk memperbaiki kehidupan. Sepeninggal bapaknya, sawah yang hanya sepetak di garap Kang Wiryo, kakak iparnya.
Awalnya ia berjanji akan kembali sebelum musim panen berikutnya. Tapi hidup ternyata lebih rumit dari janji anak muda. Ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Surat-surat yang dulu rajin dia kirim ke Yanti, seiring pergulatan hidup dikota, makin jarang dia menulis lagi. Sampai akhirnya berhenti sama sekali. Hanya pada ibunya berkabar sesekali, sambil menyelipkan beberapa lembar uang didalamnya. Bukan karena lupa. Kadang seseorang terlalu malu pulang, dalam keadaan gagal memintal harapan.
Sasro pernah menikah. Tapi istrinya, Sari, meninggalkannya, saat usia pernikahan baru beberapa bulan. Tak tahan hidup dalam kemelaratan. Ada beberapa perempuan yang datang kemudian, tetapi ruang hatinya selalu terasa seperti rumah yang separuhnya telah kosong tak berpenghuni. Setiap malam-malam sunyi di petak kontrakan, muncul wajah Yanti dengan suara tawanya yang renyah.
Sementara di desa, Yanti kian menua dihela sang waktu.Ia juga pernah menikah. Beberapa tahun. Tapi diceraikan karena rahimnya gabug. Tak bisa menyimpan janin untuk melahirkan. Kini hidup sendiri, di rumah tepi kali.
Orang-orang dulu bertanya kenapa Yanti tak menikah lagi. Bukankah ada beberapa duda beranak yang sedia menikahi, meski dia tak bisa mengandung bayi.
Yanti hanya tersenyum dan berkata, “Belum ada jodoh lagi,...mungkin.” Padahal sebagian besar hatinya tertinggal pada lelaki yang pergi tanpa kabar lagi. Berharap pria itu, tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahnya. Atau muncul dari kelokan jalan depan rumah, saat pagi atau senja hari. Ketika dia duduk dibangku panjang selepas menyapu halaman.
Pagi turun perlahan di tanah gembur pedesaan. Seperti langkah pelan Sasro yang tengah menyusuri jalanan. Menyusuri ingatan yang pernah ditinggalkan. Memungut remah kenangan yang berserak di sebagian kehidupan, yang pernah dia lewati. Di desa kelahirannya ini.
Kabut tipis masih selerap mengambang di antara rumpun bambu dan pepohonan tua dekat tanah lapang. Titik embun masih menempel di ujung daun Kersen, seperti sisa mimpi malam yang masih hinggap, belum sepenuhnya pergi.
Jalan kecil yang membelah sawah tampak lengang. Tak ada suara kendaraan. Hanya desiran bayu yang menyapu rumpun batang padi muda. Gericik risik air dari selokan kecil di tepi pematang.
Dari Sasro berdiri, tampak asap tipis naik dari dapur-dapur rumah, menembus atap yang hitam. Terpapar jelaga kayu yang dibakar untuk memasak dari tungku perapian.
Langit pagi berubah warna, dari biru pucat menjadi keemasan. Cahayanya jatuh lembut di hamparan sawah, memantulkan kilau yang tenang. Burung-burung pipit pemakan bulir padi, beterbangan rendah, lalu hinggap di dahan pohon Waru yang doyong ke kali.
Langkah kaki Sasro masih terus berayun pelan. Langkah yang kian mendekat ke arah rumah Yanti. Seakan ada bisikan yang menggerakkan jenjang kakinya. Menuju arah rumah beratap genteng, berdinding anyaman bambu yang dicat kapur cair biru muda. Dulu. Entah, sekarang.
Jantungnya berdegup seperti anak muda yang hendak bertemu cinta pertamanya. Ada takut, ada rindu, ada sesal yang tak kunjung selesai.
Rumah itu masih ada. Pagar bambunya mulai lapuk. Pot bunga di teras merimbun hijau tapi asri tertata.
Sasro berhenti. Berdiri lama di luar pagar. Jantungnya juga serasa jeda berdetak. Serasa mati. “Terlalu lama aku pergi. Yanti pasti sudah mengutukku berkali-kali. Pasti sangat membenciku,.. dan ingin aku mati ” bisiknya pada diri sendiri. Meski menurut cerita Emak semalam, Yanti sudah memaafkan dirinya. Beberapa kali Emak dan Yanti tak sengaja bertemu : di pengajian, di undangan hajatan. Saling memberi kabar dan bertukar cerita.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka.Seorang wanita separuh baya keluar membawa ember kecil berisi air. Berkebaya hitam, berkerudung kuning keemasan. Tubuhnya tak lagi tegak seperti dulu, tetapi matanya,...sepasang mata itu masih sama. Juga cara berjalannya.
Yanti menghentikan langkahnya. Ember kecil di tangannya hampir terlepas jatuh. Mereka saling memandang dalam diam yang panjang.
Angin pagi berhembus perlahan mengibaskan daun-daun pisang.
“Kang Sasro?” langkahnya mendekat, suaranya serak tercekat. Seolah takut salah mengenali kenyataan. Kenyataan bahwa Sasro yang sedang berdiri di luar pagar adalah Sasro yang pernah sangat dirindukan.
Sasro tersenyum. Matanya mulai basah. “Iya, aku Yan ”
Yanti menutup mulutnya menahan tangis. Selama puluhan tahun ia sering membayangkan pertemuan ini. Kadang dalam doa, kadang dalam sepi malam ketika hujan turun. Tapi saat lelaki itu benar-benar berdiri di depannya, ia justru kehilangan banyak kata.
“Kamu… kamu masih hidup, masih ingat aku kang ? Langkah kakimu juga tak melupakan arah rumah ini ” kalimatnya terbata.
Sasro masih berdiri di luar pagar. Berkata pahit, tersendat.
“Aku... juga kadang heran masih bisa hidup sampai setua ini, Yan. Dan bersyukur tak hilang ingatan, karena berusaha terlalu keras untuk melupakanmu. Tapi, tak juga bisa"
Air mata Yanti yang sejak tadi mengambang di pelupuk, kini jatuh. Dua puluh tahun menunggu seseorang yang bahkan tak pernah memberi kabar. Namun anehnya, hatinya tak marah. Yang tinggal hanya rasa haru yang menunjam dalam.
“Mengapa baru pulang sekarang?” tanyanya pelan.
Sasro menunduk lama. Angin berkesiur mengusir gundah hatinya. “Aku malu ”
“Malu?”
“Aku pergi dengan banyak mimpi. Aku pikir akan pulang membawa sekeranjang besar keberhasilan, membangun rumah untuk kita, menata kehidupan yang lebih baik. Nyatanya. '
"Nyatanya apa, Kang?
“Nyatanya, hidup hanya membuatku jadi tua dan kalah, Yan ”
“Kang… aku tidak pernah menunggumu membawa keberhasilan dari kota. Kehidupan bisa kita bangun seadanya bersama. Yang penting hidup penuh keberkahan. Tak pernah melupakan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Selalu berusaha istiqomah dalam beribadah kepada-Nya”
Kalimat itu membuai perasaan Sasro. Membawanya pada rasa tenang terdalam. "Se-legowo itu, hatimu Yan " gumamnya.
“Aku sering duduk di sini sendirian,” sambung Yanti pelan. “Kadang aku berkhayal, mungkin suatu hari kau akan muncul dari kelokan jalan itu.” Sasro menahan napas.
“Aku jahat Yan, sudah membuatmu tersiksa menungguku ” Yanti menggeleng kecil.
“Tidak, Kang. Kita hanya kalah oleh waktu.” Mereka terdiam.
Sasro mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah tasbih berbahan kayu Bidara. “Aku masih menyimpannya,” katanya.
Yanti terkejut kecil. “Itu…”
“iya, Kamu memberikannya waktu aku berangkat dulu, Yan ” Air mata Yanti jatuh lagi.
“Kau masih menyimpan benda tua seperti itu?” Sasro menyahut pelan
“Ada orang yang selama hidupnya merantau berpindah-pindah ke banyak tempat, tapi hatinya tidak pernah benar-benar pergi dari satu tempat.”
Yanti menunduk. Sedih, juga tersipu.
“Kalau waktu bisa diputar… aku ingin pulang lebih cepat,Yan.” Yanti tersenyum tipis dengan mata yang basah.
“Tidak apa-apa. Bukankah akhirnya kau tetap pulang juga?”
"Iya, Yan. Aku sudah disini. Sudah pulang. Berdiri tegak dihadapanmu. Besok aku dan Lik Narso pamanku, insya Allah akan datang, untuk melamarmu" Tangis mereka pecah.
Tangis dua manusia yang dipisahkan waktu. Tangis sepasang sayap rindu yang tak pernah henti berharap untuk sua. Tangis karena sebuah harapan, yang ternyata mampu bertahan lebih lama daripada bilangan usia.
Burung-burung kecil beterbangan dari pohon Akasia, ketika suara isak mereka memenuhi udara pagi yang lengang. Suara jerit jangkrik yang melengking di bawah jembatan bambu, perlahan melirih. Lalu sunyi.
Dua hati yang selama ini bersekat kabar dan jarak, akhirnya dipertemukan kembali. Dipertemukan lagi dengan serpih-serpih kenangan yang sempat memudar. Lembar-lembar perasaan yang semula ingin dihapus, namun nyatanya masih terus berpendar. Kini melangkah bersama dalam genggam ikatan suci. Dalam rumah sakral pernikahan yang abadi.
✍ Kotapadi, 2006