Bogor malam itu baru saja dibasuh hujan deras. Aroma tanah basah—petrichor—menguar di antara kepulan asap rokok dan aroma alkohol di sebuah sudut lokalisasi tersembunyi. Dari kejauhan, lampu-lampu kota Bogor berkerlap-kerlip seperti permata yang berserakan di kaki Gunung Salak yang angkuh dan gelap. Di dalam bar yang remang, tawa pecah.
Maman, seorang duda kaya yang hidupnya tak punya arah sejak ditinggal mati sang istri, duduk bersandar pada sebuah kursi. Nampak ada tatto di kedua lengannya. Dikenal sebagai duda beruang banyak, tapi batinnya kosong. Sering terbengong.
Seperti biasa, begitu Maman datang, lima wanita penghibur langsung mengerubutinya. Mereka berebut menuangkan minuman, memijat bahu, atau sekadar mencari perhatian demi selembar uang merah. Namun, malam itu, mata Maman lebih sering tertuju pada Lia. Wanita itu memiliki binar serta sayu mata yang berbeda—ada kesedihan yang dalam yang selalu dia sembunyikan di balik senyum dalam rona lipstiknya. “Tetap cantik,” batin
Maman, “aku menyukainya.” Dia memendam rasa itu rapat-rapat. Dia merasa dirinya terlalu kotor untuk mencintai dengan tulus.
Di sudut meja yang tak jauh dari mereka, duduk seorang pemuda dengan pakaian rapi namun bersahaja. Namanya Adang. Dia datang dari Jakarta, menembus dinginnya Bogor bukan untuk mencari hiburan, melainkan untuk menuntaskan ujian ilmu tauhid dari gurunya: melihat Allah di tempat yang paling dilupakan manusia; paling hina di mata manusia.
Adang menatap riuh meja Maman, lalu tersenyum hangat. Dia mendekat dan menyapa, "Selamat malam, Akang-Akang, Teteh-Teteh."
Maman yang sedang merangkul Lia menoleh, agak terkejut melihat kehadiran pria yang tampak "salah tempat" tersebut. "Eh, malam, Mas. Sini, gabung," ajak Maman ramah, meski bicaranya mulai agak cadel akibat pengaruh alkohol.
Waktu merambat. Suara azan isya sayup-sayup terdengar dari pengeras suara masjid di balik bukit, bersaing dengan dentum musik bar, canda tawa tamu dan wanita-wanita itu. Adang melirik jam tangannya, lalu menatap Maman dan para wanita di sekelilingnya.
"Akang Maman, Teteh-Teteh...” Adang memberanikan diri menyela
keasyikan mereka, “ waktu isya sudah masuk. Yuk, kita salat dulu," ajak Adang dengan suara yang sangat lembut, tanpa nada menghakimi.
Suasana meja seketika hening. Gelas-gelas tertahan di udara. Lima wanita itu saling berpandangan, bingung sekaligus gemetar. Mengajak salat di tempat seperti ini adalah hal paling tabu yang pernah mereka dengar.
Namun, pancaran ketulusan dari mata Adang runtuhkan keraguan mereka. Satu per satu wanita itu berdiri, termasuk Lia.
"Kalian ikutlah. Aku di sini saja," ujar Maman sambil melambaikan tangan, mempersilakan, seraya meraih gelasnya kembali.
"Akang tidak ikut?" tanya Adang, bernada ajakan lembut.
Maman menunduk, menatap cairan di gelasnya dengan senyum getir. Lalu, "Malu akusama Allah, Bang... Masak lagi mabuk kotor najis begini mau menghadap Yang Maha Suci?"
Adang mengangguk takzim, “Oh begitu.” Dia lalu memimpin kelima wanita itu menuju sebuah ruangan kosong di bagian belakang bar yang disulap menjadi musala darurat. Di atas sajadah yang agak lusu berdebu, di bawah temaram lampu bohlam, mereka ruku’ dan bersujud. Air mata para wanita itu luruh, merusak riasan tebal di wajah mereka.
Usai salam, Adang berbalik memandang mereka. "Teteh semua luar biasa. Allah tidak melihat di mana tempat kalian berdiri sekarang, tapi Allah melihat hati yang masih mau bersujud meski di tempat yang orang sebut kotor ini. Jangan pernah putus asa dari rahmat-Nya."
Adang kembali ke meja depan. Maman masih di sana, memandangi gelasnya yang kosong, seperti jiwanya juga.
"Tadi Akang bilang, tidak mau ikut salat karena malu sama Allah?" tanya Adang, memulai obrolan seraya duduk di samping Maman.
"Iyalah, Bang," sahut Maman, suaranya mendadak berat, serak. "Masak lagi mabuk gini salat... Apa tidak makin dikutuk Tuhan, saya? Akutahu diri, Bang. Dosa akusudah setinggi Gunung Salak di luar sana tuh."
Adang tersenyum, menepuk bahu Maman. "Kang, rasa malu itu adalah bagian dari iman. Orang yang masih punya rasa malu kepada Penciptanya, artinya hatinya belum mati total. Hatinya masih ada ruang putih. Berarti
Allah masih menyinari hati Akang, walau dengan sinar redup bagai hendak mati bagai lentera yang tertiup."
Maman terdiam. Kata-kata Adang malam itu bergaung lebih keras daripada musik bar di telinganya.
Setelah malam yang ganjil itu, Maman menghilang. Tiga hari berturut-turut kursinya di bar kosong. Bogor diguyur hujan dan serangan kabut tebal, membuat suasana lokalisasi terasa dingin dan sepi. Adang yang masih memantau daerah itu datang lagi dan menghampiri Lia.
"Teh Lia, Kang Maman ke mana? Sudah tiga hari tidak kelihatan," tanya Adang.
Lia yang wajahnya tampak lesu menggeleng. "Katanya lagi gak enak badan, Bang Adang. Tapi kemarin sempat kirim pesan, suaranya aneh. Kayak orang bingung."
Khawatir dengan kondisi Maman, Adang meminta alamat rumahnya dan langsung meluncur membelah jalanan Bogor yang berkelok di bawah rindangnya pohon-pohon kenari besar. Rumah Maman megah, namun sunyi. Saat pintu terbuka, Maman muncul dengan kaos oblong, wajahnya kuyu, dan janggutnya mulai tumbuh Liar. Sangat terlihat tak terawat.
"Eh, Bang Adang... silakan masuk," sapa Maman ragu.
Di ruang tamu yang menghadap ke halaman belakang penuh tanaman talas Bogor, Maman akhirnya menumpahkan segalanya, sambil menawari rebuskan ubi talas.
“Boleh, Kang,” jawab Adang singkat.
Maman ke belakang, mencabut tanaman talas, mencuci lalu merebusnya.
"Aku tidak ke bar bukan karena sakit fisik, Bang,” terang Maman setelah menjumpai Adang lagi di ruang tamu. “Aku sedang perang batin," lanjut Maman, sambil kedua tangannya saling meremas. "Baru kali ini dalam hidupku, ada orang yang mengajakku salat saat aku sedang memegang gelas minuman keras. Biasanya, orang saleh itu mengajak salat orang-orang yang sudah baik. Yang pakai baju koko, yang tidak mabuk. Tapi Abang...
Abang mengajak aku yang bajingan ini. Aku gemetar, Bang. Aku sadar, aku ingin taubat."
Adang mendengarkannya dengan khusyuk. Ujian tauhidnya terjawab: hidayah bisa tumbuh di tanah paling gersang, paling keras sekalipun.
"Kang Maman, pintu taubat Allah itu lebih luas dari samudra,” jelas Adang kemudian, sambil menikmati kopi pahitnya. “Bahkan jika dosa kita seluas langit dan lautan, Dia masih mau mengampuni kita, asal taubat kita taubatan nasuha."
“ Apa itu taubatan nasuha, Bang?” sela Maman.
“Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin-nya,” jelas Adang, “ia adalah menyesali dosa yang murni, tulus, dan mampu "menasehati diri sendiri" untuk berhenti total dari dosa serta tidak mengulanginya lagi.
Maman menatap Adang dengan mata berkaca-kaca. "Bang Adang, bimbing aku. Aku ingin berubah total, agar Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang menggunung, mengalahkan besar dan tingginya gunung Salak itu. Aku punya nazar... aku ingin ngajak Bang Adang, dan... dan calon istri aku nanti, untuk pergi haji bersama. Sebagai rasa syukur. Sekaligus bekal menghadapi maut nanti. "
Adang tersenyum lebar. "Masyaa Allah...wal-hamdulillah. Tapi, siapa calon istri Akang?"
Maman tersenyum malu-malu, gurat wajah duda kayanya kembali muncul. "Itu... Lia, Bang,” jawabnya kemudian. “Aku sudah lama naksir dia sih sebenarnya, hehe.” Tapi aku tidak percaya diri. Tolonglah, Bang Adang kan pintar bicara, bantu aku dekati dia. Sampaikan niat baik aku untuk memuliakan dia sebagai istri, ratu di rumah ini."
Misi suci itu diemban Adang. Di sebuah kedai kopi kecil di pinggiran Bogor yang sejuk, dengan pemandangan hamparan sawah hijau di kejauhan, Adang menemui Lia secara pribadi. Dialog panjang terjadi. Adang menjelaskan perubahan batin Maman dan niat sucinya untuk menjemput Lia keluar dari dunia malam.
"Teh Lia,” buka percakapan Adang, “Kang Maman tidak akan lagi mencari wanita penghibur untuk semalam. Bukan lagi untuk cinta semalam. Dia mencari teman hidup untuk melangkah ke jalan Tuhan. Dia ingin memuliakan Teteh," ucap Adang selanjutnya untuk meyakinkan Lia.
Lia menangis. Menghirup udara Bogor yang bersih di siang itu. Dia merasa seolah beban masa lalunya ikut hanyut bersama aliran sungai Cisadane yang cukup deras. Lalu dia berkata, "Kalau Kang Maman tulus menerima masa lalu aku, aku bersedia, Bang. Aku juga ingin pulang ke jalan yang benar sejak lama, namun jalan itu baru datang sekarang sepertinya ya. Semoga menjadi hidup yang beautiful untuk selanjutnya. Aamiin Yaa Allah."
“Aamiin,” Adang meng-aamiin-kannya pula.
Beberapa hari kemudian, akad pernikahan digelar sederhana namun khidmat, di sebuah masjid bernuansa kayu di kaki gunung. Tak ada riuh bar, yang ada hanya lantunan ayat suci dan senandung salawat Nabi. Maman resmi mempersunting Lia. Namun Adang tidak bisa ikut menjadi saksi pernikahan mereka, karena tidak bisa meninggalkan kerjanya di sebuah BUMN.
Tidak lama pasca pernikahan yang bersejarah itu, bulan haji tiba. Sesuai nazar Maman, mereka bertiga pun berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Di bawah langit yang bersih tanpa awan, di depan Ka'bah yang suci lagi megah, tiga orang tersebut berdiri berdampingan mengenakan pakaian ihram putih yang suci. Maman menggandeng erat tangan Lia, istrinya yang kini tampak makin cantik dan manis-anggun dengan hijab putihnya. Di samping Maman, Adang berdiri dengan senyum damai dengan syukur yang banyak, karena bisa berhaji yang tidak disangka-sangka.
Saat itu, di kalangan jamaah haji Indonesia belum ada budaya selfie-selfie seperti sekarang ini. Imam Masjid Nabawi, Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaili pun tidak perlu repot-repot mengomentarinya. Hehe...
Maman menepuk pundak Adang. "Bang Adang, terima kasih sudah menjadi perantara takdir kami. Kalau malam itu Abang tidak mengajak kami salat, aku mungkin sudah mati dalam keadaan mabuk di Bogor. Bisa jadi terjerembab dalam got pula," kelakar Maman.
Adang menggeleng pelan, matanya menatap Ka'bah. "Bukan aku, Kang. Itu cara Allah memanggil hamba-Nya yang dirindukan. Kita semua hanya musafir yang sedang berjalan pulang."
Oh ya, Bang, mumpung masih ingat,” sambung Maman kemudian, “nih aku kan punya tatto,” katanya seraya menunjuk kedua lengannya yang bertatto, “bagaimana baiknya. Kan katanya olrh Rasulullah SAW. dilarang?”
Sambil memandang ke arah kedua lengan Maman, Adang berkata, “Ya, baiknya memang dihapus, kalau bisa. Kalau tidak bisa, semoga Allah mengampuninya.”
“Aamiin,” sahut Maman. “Alangkah indahnya agamaku, sebenarnya. Melaksanakan ajaran-jarannya semampu penganutnya, asal sudah berusaha. Islam benar-benar agama rahmatan lil ‘alamin. Sungguh merugi dulu, aku telah abai.”
Di bawah matahari haram yang hangat, namun tubuh tanpa keringat, air mata ketiganya luruh—bukan lagi karena kutukan masa lalu, melainkan karena indahnya pengampunan dan cinta yang tumbuh dari fondasi iman yang hakiki.
Beberapa bulan kemudian, kisah mereka mencapai bait terakhirnya di depan Ka'bah yang megah di tanah suci Mekkah. Di bawah langit malam yang bertabur bintang, tiga pasang mata menatap lurus ke arah bangunan kubus hitam yang agung. Maman menggandeng Lia, sementara Adang berdiri di samping mereka, melantunkan talbiyah dengan syahdu.
Hikmah di Depan Ka'bah
Di bawah kabut Bogor yang pekat menari, Ada jiwa-jiwa yang retak mengutuk diri, Mengira pintu langit telah terkunci mati, Oleh pekatnya noda dosa yang tak terperi.
Namun hidayah datang bak rintik hujan, Tak memilih tanah subur atau kubangan, Sujud terhampar di balik remang malam, Menghapus kotornya dosa yang kelam.
Wahai musafir yang berjalan dalam gulita, Jangan pernah putus asa dari cinta-Nya,
Sebab seburuk-buruknya masa lalu yang bertahta, Masa depan yang suci selalu terbuka nyata.
Kini di depan Ka’bah air mata meluap pasrah,
Lentera tauhid telah menyala dengan indah, Membuktikan bahwa rahmat Sang Penguasa Arsyi, Lebih luas dari seluruh bumi dan langit yang suci.
@Arto’Latief, 090526
*Cerpen ini berdasarkan kisah nyata yang diimprov